Tampilkan postingan dengan label Sebatas Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebatas Kata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Bermain Hati

Aku tak mudah mengaku cinta. Aku tak mudah bermain cinta.
Tak mudah pula tuk mencintai.

Adakah kata yang mampu menggambarkan ruang hati?
Aku bermain hati.


Di sudut layar, kampus hiji; 16:34 / 16 November 2014

Minggu, 26 Oktober 2014

Sebuah Pengakuan

Lama kira aku menunggu
Menunggu rindu di selubung kalbu
Aku kira rasa ini telah mati
Digerogoti sang pencuri hati

Jumat, 06 Januari 2012

Minta Dukungan "Jadi yang Terbaik"

Assalamu'alaikum Warohmatullah Wabarokatuh...

Apa kabar blogger?? Sehat, kan??
Tahun baru sudah lewat enam hari, nih.. Adakah resolusi atau impianmu di tahun 2012 ini?? Aku menulisnya lewat tulisan yang sedang dilombakan..
Minta dukungannya dong, lewat komentar kalian di blog TERAS, ada resolusiku di tahun 2012.

Senin, 25 Juli 2011

Antropologi di Hidupku



Wajahku hari ini murung
Kusut layu bak kakek peyot
Dengan bibir manyun maju
Hump....

K.A.H.E.S (Kemarin, Hari ini, Esok, Seterusnya) [ 1 ]

K.A.H.E.S Part 1

Sumpah ...!
Kemarin aku temui diriNya dalam gelap lelap
Demi Allah ...!
Hari ini ku tlah temui diriNya saat semua tertidur
Tapi aku tak tau,
Apakah esok aku kan temui diriNya saat semuanya tertidur lelap
Mungkin
Ku harap
Dan ku mohon
Aku ingin seterusnya temui diri-Nya dalam gelapku saat lelap semuanya tertidur

Sabtu, 11 Juni 2011

Langkah Berat Menggapai Impian

Ketika sajak ini aku tulis bersama keringat bercucuran bak orang panggang ala sengat matahari, kutulis semua yang ada di dalam otak dan nalarku untuk sebuah goresan tinta. Tapi untuk kali ini aku sedikit kehilangan jati diri seorang penulis pemula yang ingin memperkenalkan dirinya kepada dunia luar. Buntu, tidak ada jalan keluar yang bisa aku tembus. Bundhet seperti pita kaset yang nglokor. Tak tau harus dibuang atau dirapikan. Hal ini membuat pikiranku tak bisa tenang.

Aku hanya bisa berfikir sejauh apa yang sebelumnya terjadi pada sekarang. Entah. Aku ingin ke pantai dan teriak sekencang-kencangnya. Sampai semuanya lepas dan beban pikiran ini bisa menjadi lancar. Tak ingin macet, hanya saja pucet. Sedikit saja aku ingin tenang agar karyaku bisa terbit dan tercetak oleh sejarah hidupku. Mengawali dari niat yang takkan terhalangi oleh siapapun. Bebas berekspresi lewat lentikan jari sebagai karya yang ternilai.

Berjalan melewati batas dinding yang begitu amat sangat menghalangi. Menyeberang air yang keruh dan terpeleset dalam jurang yang dalam. Kaki ini mulai tak bisa diajak kompromi. Tak ada satupun yang lihat. Diriku satu di tempat itu. Usaha pantang pasrah, gentar menghadapi apa yang ada di depan mata. Langkah ini hanya untuk impian. Bukan untuk bermalas-malasan. Dan tak ada batas penghalang lagi bagiku untuk berimajinasi saat duduk dan terus melentikkan jariku...

Jumat, 10 Juni 2011

Tak Berarti Buruk

Pagi di persimpangan kota menjelang siang. Ku lihat dia sedang termenung saat semuanya sedang sibuk kerja. Apa dia tidak ada kerjaan. Seperti sedang menunggu sesuatu yang belum pasti.
Berawal dari sebuah kisah klasik, mudah ditebak. Begitu pula saat dia berencana untuk menutupi kebohongan yang pernah dia buat. Menarik untuk disikapi. Tapi dia tidak mau diberi yang lurus. Serakah sekali kau dengan semua yang kau punya dan seenaknya berkata padaku tentang bla...bla...bla...
 
Akankah kau selalu begitu pada semua orang. Atau hanya padaku sebagai korban tunggal dari semua permainan busukmu. Dalam hati hanya balas benci.
Muak dengan semua tingkah tutur katamu. Merasa paling benar dan tak mau mengalah. Korban dari semua intrik licikmu. Aku hanya bisa berdoa. Semuanya biar lerai. Terlarut-larut dalam kesedihan yang dibuat-buat. Layaknya sebuah sinetron yang terbius dan menyucurkan air mata sampai seember. Atau menghabiskan tisu bergulung-gulung.
Demikianlah aku katakan kepadamu. Tak selamanya yang aku lakukan itu buruk. Demi kebaikan dan jalan penengah dari segala macam agenda yang berbelit-belit. Baik bagimu, tak layak untukku.



Sore menjelang malam, kau sebut namaku. Itulah saat-saat pahit yang meradang di hati. Dengan segenap rasa ku percepat segera sampai ke gubug derita awal perjalanan hidup mengenalmu..

Your IP Address

Comment with Facebook

Pengunjung Negera

free counters